Bekali Mahasiswa Kawal Kebijakan Kampus, BEM STAIDA menggelar Sekolah Advokasi selama 2 hari
ADMIN24x ditampilkan Berita
BANGKALAN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Darussalam Bangkalan (STAIDA) melalui Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) sukses menggelar Sekolah Advokasi selama dua hari, Kegiatan ini mengusung tema “Diskursus Kemahasiswaan: Advokasi Hak dan Kebijakan Kampus” dan berlangsung dengan kuota terbatas khusus mahasiswa STAIDA. Pada Sabtu–Minggu.(24-25/1/26)
Ketua panitia kegiatan, Nur Aini, yang juga menjabat sebagai Menteri Adkesma BEM STAIDA, menegaskan bahwa sekolah advokasi ini dirancang sebagai ruang edukasi strategis bagi mahasiswa agar memiliki bekal intelektual dan praktis ketika berproses di luar kampus, khususnya dalam mengawal kebijakan.
“Sekolah advokasi ini kami rancang sebagai bekal mahasiswa STAIDA agar tidak gagap ketika berhadapan dengan kebijakan, baik di tingkat kampus maupun ruang publik. Karena itu, pesertanya kami batasi dan khususkan hanya untuk mahasiswa STAIDA agar pendalaman materinya lebih maksimal,” ujar Nur Aini.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta dibekali beragam materi advokasi dari pemateri yang kompeten di bidangnya. Samsul Arif Marla, anggota DPRD Bangkalan Komisi II, menyampaikan materi mengenai analisis sosial (ansos) dan riset sosial (reksos) sebagai dasar membaca problem kebijakan. Sementara itu, Munawwir, mantan Presiden Mahasiswa UINSA, mengupas teknik investigasi dan dokumentasi sebagai instrumen penting dalam kerja-kerja advokasi mahasiswa.
Materi lainnya disampaikan oleh Dr. Jamil yang membahas manajemen advokasi, serta Fahmi Dawami yang mengulas analisis wacana kebijakan dan hukum, guna mempertajam daya kritis mahasiswa dalam membaca regulasi dan produk hukum.
Presiden Mahasiswa BEM STAIDA Kabinet Satya Adhikara, Ahmad Fawaid, mengapresiasi terselenggaranya sekolah advokasi tersebut. Ia menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam membangun kesadaran kritis dan keberpihakan mahasiswa terhadap isu-isu kampus.
“Sekolah advokasi ini bukan hanya agenda seremonial, tetapi ruang kaderisasi intelektual. Mahasiswa harus mampu memahami kebijakan, mengkritisinya secara argumentatif, dan mengawalnya dengan cara yang beretika serta berbasis data,” tegas Ahmad Fawaid.
Ia berharap, melalui sekolah advokasi ini, mahasiswa STAIDA mampu tampil sebagai agen perubahan yang tidak hanya vokal, tetapi juga memiliki kapasitas analisis dan keberanian moral dalam memperjuangkan hak-hak mahasiswa serta kepentingan akademik kampus. (Minggu/25/1/26)