Tiga Mahasiswi STAIDA Bangkalan Tampil sebagai Presenter di International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026

ADMIN Rabu, 6 Mei 2026 16:35 WIB
61x ditampilkan Berita

Tiga mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis (IH) Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA) Bangkalan berhasil mengharumkan nama almamater di tingkat internasional. Pada Selasa, 5 Mei 2026, ketiganya tampil sebagai presenter dalam ajang bergengsi International Conference on Islamic Thought (ICIT) 2026, sebuah konferensi ilmiah internasional yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting oleh Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan.
Konferensi yang mengusung tema "Islamic Financial Literacy for Sustainable Development" ini berhasil menjaring sebanyak 50 makalah terpilih dari berbagai institusi akademik. Dari total tersebut, tiga di antaranya berasal dari STAIDA Bangkalan, sebuah capaian yang menunjukkan kualitas riset mahasiswi perguruan tinggi tersebut mampu bersaing di kancah global.
Forum internasional ini turut menghadirkan sejumlah pembicara utama terkemuka dari berbagai penjuru dunia. Di antaranya adalah Dr. Khairunnisa Musari, Associate International dari Asosiasi Keuangan Islam Iran (IAIF); Dr. Ghadeer Ahmad Khalil (Al-Sheikh Khalil), Asisten Profesor di Departemen Perbankan Islam, Universitas Swasta Zarqa, Yordania; serta Zanura Nauman, Spesialis Pendidikan di Aflatoun International, Amsterdam, Belanda. Kehadiran para pakar dari Iran, Yordania, dan Belanda ini memperkuat bobot akademik dan jangkauan internasional konferensi tersebut.
Tiga mahasiswi yang berhasil menjadi salah satu presenter di ICIT 2026 adalah Alifah dan Wiwik Halwiyah (mahasiswi semester 6), serta Nadiatul Khoiroh (mahasiswi semester 4). Ketiganya merupakan mahasiswi aktif Program Studi Ilmu Hadis STAIDA Bangkalan yang menyusun dan mempresentasikan makalah ilmiah mereka secara mandiri.
Alifah mempresentasikan makalah berjudul "Reaktualisasi Larangan Riba Dalam Hadis Di Tengah Praktik Keuangan Modern: Analisis Kritis Atas Fenomena Riba Di Indonesia." Dalam kajiannya, Alifah menegaskan bahwa hadis Nabi SAW melarang riba dengan sangat tegas, menempatkannya sebagai dosa besar, dan mengaitkannya erat dengan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, serta tanggung jawab dalam muamalah.
Relevansinya dengan kondisi keuangan masa kini sangat nyata. Alifah menyarankan masyarakat untuk mengutamakan transaksi jual beli tunai, menggunakan akad syariah yang bebas bunga, beralih ke lembaga keuangan syariah, serta secara aktif menghindari layanan paylater dan pinjaman online yang menerapkan bunga tinggi, yang saat ini marak di tengah masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Wiwik Halwiyah tampil dengan makalah berjudul "Kritik Terhadap Budaya Cramming Dalam Pembelajaran: Kajian Tematik Hadis Tentang Konsep Belajar Bertahap." Dalam paparannya, Wiwik mengangkat perspektif hadis tentang pola belajar ideal menurut Islam.
Ia menguraikan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan pola belajar yang bertahap dan berkesinambungan, bukan sekaligus dalam satu waktu. Hal ini tercermin dari penggunaan kosakata ta'allama yang mengandung faedah tadrījī (bertahap). Dengan demikian, metode cramming, yakni belajar dalam satu waktu intensif menjelang ujian—tidak dianjurkan dalam Islam karena terbukti menurunkan efektivitas belajar secara keseluruhan.
Adapun Nadiatul Khoiroh, mahasiswi semester 4 yang usianya paling muda di antara ketiganya, mempresentasikan makalah berbahasa Inggris berjudul "Implementation Of The Values Of The Hadith Of Inna Li Rabbika Ḥaqqān: An Effort To Develop Spiritual Competence And Teacher Burnout."
Dalam penelitiannya, Nadiatul mengidentifikasi bahwa burnout pada pendidik disebabkan oleh beban kerja yang berlebihan, lingkungan kerja yang tidak suportif, serta pola interaksi yang tidak sehat. Sebagai solusi, ia menawarkan konsep work-life balance dalam perspektif Islam, yang selaras dengan prinsip tawāzun (keseimbangan) dan tawāsuṭ (moderasi).
Lebih jauh, Nadiatul mengaitkan temuannya dengan hadis inna li rabbika ḥaqqān yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Hadis tersebut menegaskan pentingnya menyeimbangkan seluruh hak dan kewajiban dalam hubungan manusia, kepada Allah, diri sendiri, keluarga, dan sesama. Nadiatul menyimpulkan bahwa pengaturan hidup yang baik selaras dengan tujuan maqāṣhid al-syarī'ah dan secara nyata dapat membantu menjaga keseimbangan hidup serta mencegah stres dan burnout lebih lanjut.
Keberhasilan tiga mahasiswi STAIDA Bangkalan menembus forum ilmiah internasional ini merupakan bukti nyata bahwa kualitas penelitian mahasiswi perguruan tinggi berbasis Islam di daerah mampu bersaing di level global. Dari 50 makalah yang berhasil lolos seleksi ICIT 2026, tiga di antaranya berasal dari institusi yang sama, sebuah prestasi yang tidak biasa dan patut dibanggakan.
Capaian ini sekaligus membuktikan bahwa kajian hadis tidak hanya relevan secara teologis, tetapi juga mampu merespons tantangan kontemporer, mulai dari literasi keuangan, metode pembelajaran, hingga kesehatan mental pendidik dengan pendekatan yang ilmiah, berbasis teks, dan solutif.