Tafsir Yasin dan Harapan bagi Mereka yang Jauh dari Tuhan: Penelitian "Tafsir Lisan" Mahasiswa STAI Darussalam Bangkalan

ADMIN Rabu, 20 Mei 2026 12:10 WIB
58x ditampilkan Berita

BANGKALAN – Sebuah penelitian lapangan yang unik dilakukan oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam Bangkalan.  tidak sekadar mengkaji teks, melainkan meneliti "Tafsir Lisan" (oral exegesis) atas Surah Yasin yang berlangsung di Pesantren Syaikhona Muhsin Al-Balighowy, Blega, Bangkalan, pada Kamis (17/4/2026).

Penelitian ini menyoroti bagaimana metode penafsiran secara lisan yang disampaikan oleh KH Khaibar Djuaini, salah satu pengasuh pesantren sekaligus ​​​​​​​​​Asatidz, mampu menghadirkan optimisme spiritual bagi mereka yang merasa telah tenggelam dalam dosa dan jauh dari Tuhan.

Menemukan Harapan di Tengah Rasa Bersalah
Ketua tim peneliti dari STAI Darussalam menjelaskan bahwa fokus penelitian ini adalah pada aspek performative interpretation—bagaimana pesan-pesan teologis disampaikan secara lisan dan langsung menyentuh kesadaran jamaah.

Dalam wawancara mendalam yang menjadi data utama penelitian, KH Khaibar Djuaini mengungkapkan alasan ketertarikannya pada kitab Tafsir Yasin. Menurut beliau, kekuatan utama kitab ini bukan hanya pada teksnya, melainkan pada cara menyampaikannya secara lisan yang begitu dekat dengan realitas manusia.

“Orang yang banyak dosa jangan sampai putus asa,” demikian substansi pesan yang menjadi fokus analisis mahasiswa. Dalam pandangan beliau yang diteliti, Tafsir Yasin mengajarkan bahwa rahmat Allah tidak memiliki batas sempit.

Relevansi Tafsir Lisan di Era Modern
Penelitian ini menemukan bahwa metode tafsir lisan yang diterapkan oleh KH Khaibar Djuaini memiliki keunggulan tersendiri. Ia tidak hanya membahas makna ayat secara tekstual, tetapi juga menghadirkan sentuhan spiritual yang menenangkan secara langsung, lisan, dan personal.

"Salah satu temuan penting kami adalah bagaimana tafsir lisan ini menjadi 'ruang pemulihan' bagi jamaah yang merasa dirinya terlalu kotor untuk bertaubat," ujar salah satu mahasiswa peneliti.

Fenomena masyarakat modern yang kerap dihantui rasa bersalah berlebihan menjadi latar sosial dari penelitian ini. Sebagian orang memilih menyerah sebelum berusaha mendekat kepada Tuhan, menganggap pintu ampunan tertutup. Padahal, melalui tafsir lisan Surah Yasin, mahasiswa mendokumentasikan bagaimana KH Khaibar terus menekankan bahwa pintu ampunan tidak pernah tertutup selama hayat masih dikandung badan.

Pesan Penutup: Kembali dari Titik Terjauh
Apa yang didokumentasikan mahasiswa STAI Darussalam dari tafsir lisan KH Khaibar Djuaini sejatinya mengingatkan pada satu pesan sentral: manusia memang tempat salah, tetapi Allah adalah Dzat Yang Maha Membuka pintu kembali.

“Seberapa besar pun dosa seseorang, harapan tidak boleh mati. Sering kali, langkah paling dekat menuju Allah justru dimulai dari seseorang yang pernah merasa paling jauh,” demikian kesimpulan sementara penelitian lapangan tersebut.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan akademik bagi kajian metode tafsir lisan di pesantren, serta menjadi pengingat bahwa agama bukan ruang penghukuman semata, melainkan ruang pemulihan bagi siapa pun yang ingin kembali.